December 6, 2022

Kamis, 21 Juli 2022 lalu, Universitas Indonesia (UI) bersama dengan Danone dan Yayasan Lentera Anak (YLA) mengadakan kegiatan Webinar “Sampahku, Tanggung Jawabku” (Samtaku) kepada 120 guru-guru Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Webinar ini bertujuan melatih guru-guru menyampaikan materi mengenai pengelolaan sampah yang bertanggung jawab kepada siswa/i dengan cara yang menyenangkan dengan mengacu pada buku “Sampahku, Tanggung Jawabku”. Buku ini dikembangkan bersama oleh UI, Danone, dan YLA dalam rangkaian proyek pembelajaran berbasis pengalaman untuk pengelolaan sampah yang bertanggung jawab yang didanai oleh National Geographic Society.

Kegiatan ini dilaksanakan di Wakatobi yang didukung oleh Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan (AKKP) Wakatobi, Balai Taman Nasional (BTN) Wakatobi, dan Yayasan Kajian Ufuk Indonesia (KUI). Kegiatan ini merupakan salah satu pilot penerapan buku “Sampahku, Tanggung Jawabku”, yang dilaksanakan pada tanggal 21-26 Januari 2022 lalu.

Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Cindy Rianti Priadi, S.T., M.Sc., dosen Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan juga National Geographic Explorer. Wakatobi dipilih sebagai lokasi pilot implementasi program Samtaku karena daerah tersebut memiliki Taman Nasional Laut Wakatobi yang merupakan taman nasional terbesar ke-3 di Indonesia. Tak hanya itu, pesona dan keindahan ekosistem lautnya patut dilestarikan dilindungi.

Kegiatan Samtaku ini dibagi menjadi tiga kegiatan utama, yaitu 1) Training of Trainers (ToT) kepada para pemuda Wakatobi, 2) Teaching Factory Improvement di AKKP Wakatobi, dan 3) Learning Session bagi siswa/i SMP di Wakatobi.

 

 


Training of Trainers (ToT): Pelatihan menarik bagi para fasilitator Samtaku

Kegiatan ToT bertujuan melatih pemuda/i Wakatobi yang akan menjadi trainers dalam kegiatan Learning Session kepada siswa/i SMP. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 21 dan 24 Januari 2022 dan diikuti oleh 12 pemuda/i terpilih yang berasal dari 5 Taruna/i AKKP Wakatobi, 5 anggota kelompok pencinta alam Wakatobi, dan 2 orang Polisi Hutan dari BTN Wakatobi. Didampingi oleh tim YLA dan UI, para peserta dibekalkan tips and trick dan simulasi kegiatan pembelajaran untuk menjadi fasilitator yang baik. Tak hanya penyampaian materi, pelatihan ToT ini juga melatih para fasilitator memperkenalkan kegiatan pembelajaran kepada siswa/i SMP Wakatobi pada kegiatan Learning Session nanti. Harapannya pemuda/i peserta ToT ini akan melanjutkan edukasi ini, menyebarluaskan kepada teman-temannya yang lain, dan harapannya akan terus berlanjut hingga generasi-generasi muda selanjutnya.

 

Para peserta ToT sedang diberikan materi “Apa itu Fasilitator?” oleh Kak Icha dari YLA

Para peserta berfoto bersama memegang buku “Sampahku, Tanggung Jawabku” setelah kegiatan ToT selesai

Teaching Factory Improvement: Mengenal, membuat, dan merakit teknologi alternatif pengolahan sampah organik dan plastik

Salah satu kegiatan implementasi buku Samtaku adalah teaching factory improvement di AKKP Wakatobi, yaitu pelatihan dan instalasi unit pengolahan sampah organik dan plastik. Dr. Cindy dan tim dari UI memberikan pembekalan kepada semua dosen dan taruna/i di AKKP Wakatobi selama dua hari (22-23 Januari 2022).

Pada hari pertama, peserta belajar mengolah sampah organik dari sumber menggunakan komposter dan teknologi Anaerobic Digester (AD). Dengan komposter, sampah organik dapat diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan dengan teknologi AD, sampah organik dapat diolah menjadi pupuk cair dan biogas sebagai energi bersih pengganti LPG. Dengan memasukkan sampah organik seberat 3 kg setiap harinya ke dalam reaktor AD, secara optimal dapat menghasilkan biogas setara dengan 2 tabung LPG 3 kg. Secara keseluruhan sebanyak 10 unit komposter berhasil dibuat dan 1 unit AD berhasil terpasang.

Pada hari kedua, para peserta mengikuti pelatihan pembuatan Ecobrick, yang merupakan salah satu alternatif pengolahan sampah plastik. Ecobrick merupakan botol sampah plastik yang diisi dengan potongan sampah-sampah plastik bekas kemasan sampai padat, baik itu yang lunak seperti kantong kresek ataupun yang kaku seperti kemasan sachet. Para peserta berhasil membuat 20 Ecobrick dan kemudian dibuat menjadi modul yang bisa dimanfaatkan, seperti menjadi dekorasi ruangan.

 

Dari kiri ke kanan: Para peserta membuat campuran inokulum dengan kotoran sapi untuk Anaerobic Digester, membuat isian komposter dengan sampah cokelat (dedaunan kering), dan memasukkan potongan sampah plastik ke dalam botol Ecobrick

Learning Session: Kegiatan pembelajaran “Sampahku, Tanggung Jawabku” bersama siswa/i SMP Wakatobi

Learning Session (25 – 26 Januari 2022) merupakan acara puncak dari seluruh rangkaian kegiatan di Wakatobi. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan secara resmi edukasi pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, Samtaku, yang diharapkan mampu menjadi solusi bagi permasalahan sampah di Wakatobi dan daerah lainnya di Indonesia. Learning session secara resmi dibuka oleh Sekretaris Daerah Wakatobi dihadiri oleh Kepala Dinas OPD, Direktur AKKP, Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah 1 Balai Taman Nasional Wakatobi, Kepala Sekolah dan guru pendamping dari SMP 3 Wangi-Wangi Selatan, SMP-TQ Muadz bin Jabal, SMP 5 Wangi-Wangi, SMP 1 Wangi-Wangi Selatan, dan SMP 1 Wangi-Wangi. Peserta kegiatan ini adalah 125 siswa/i SMP dari lima sekolah yang berbeda.

Para trainers yang telah mengikuti ToT memperkenalkan dan memandu para siswa-siswi SMP mengikuti enam permainan mengenai pengelolaan sampah yang bertanggung jawab sesuai dengan buku “Sampahku, Tanggung Jawabku”. Keseluruhan enam permainan menjadi suatu kegiatan pembelajaran dengan pendekatan interaktif dan edukatif yang diharapkan mampu menanamkan budaya pengurangan sampah dari sumbernya.

 

Dari kiri ke kanan: Foto bersama pembukaan Program Samtaku; Kegiatan pembelajaran Samtaku dengan para siswa/i SMP

Berakhirnya acara Learning Session menjadi sebuah permulaan bagi program Samtaku di Wakatobi. Melalui peran vital para fasilitator lokal, program ini diharapkan dapat terus berjalan dan berkembang tidak hanya di antara para siswa SMP tetapi juga jenjang pendidikan lainnya, tidak hanya di antara para pelajar tetapi juga elemen masyarakat lainnya, dan tidak hanya di antara di Pulau Wangi-Wangi tetapi seluruh Kabupaten Wakatobi dan sekitarnya. Harapannya, program ini sukses berjalan dan mampu mengatasi permasalahan sampah di Wakatobi sehingga bisa menjadi percontohan bagi pulau-pulau, kabupaten dan kota lainnya di Indonesia untuk mulai memperkenalkan perilaku yang bertanggung jawab dalam pengelolaan sampah dengan memprioritaskan pengurangan sampah pada sumbernya.

Penulis: Alisa Shafira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *